profile qhu............

profile qhu............
dilahirkan di kota lumajang pada tanggal 3 bulan Mei 1995, oleh seorang wanita baik hati. dibesarkanny dengan suami tercintanya. kini ia sedang berkelana ke pulau madura demi menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren.

Selasa, 20 Mei 2014

Dukun Santet





 Dukun Santet


DUKUN SPESIALIS SANTET
Melayani santet tingkat rendah hingga santet tingkat tinggi untuk berbagai kalangan. Menerima santet masal. Tarif normal.
Jam Praktik: Senin-Jumat: 08.00-20.00 WIB
Sabtu: 09.00-16.00 WIB
Hari Minggu dan hari besar Negara/Agama libur.

Contact person: 081939407xxx





Siji
SEMUA ini bermula Sembilan tahun yang lalu, ketika anak dan istriku masih mengharap derma dari tangan-tangan mulia dermawan. Ketika makan, kami pun masih memungut di tempat sampah kantor kecamatan. Juga ketika itu aku masih mengenal dan percaya dengan adanya Tuhan. Kini tak ada lagi tangan tangan mulia dermawan, nasi tempat sampah kecamatan juga tuhan yang aku kenal dulu.
Sebuah kecelakaan beruntun menimpaku kala itu. aku yang di upah murah untuk memanen kolam pemancingan orang terkaya dikampung ini tiba-tiba diserang binatang aneh. Binatang yang bukanlah binatang sembarangan tentunya. Mungkin binatang jelmaan -yang kata orang binatang jadi-jadian- binatang itu menyerupai buaya dengan kaki berselaput persis milik kaki itik. Dipunggungnya juga terlihat olehku sepasang sayap kelelawar. Binatang yang sangat misterius. Jika binatang itu keluar di depan mata para peneliti hewan, pasti mereka menganggap itu binatang langkah dan akan menangkapnya sebagai bahan percobaan, atau hanya sebagai hiasan ruang tamu setelah diawetkan. Binatang itu keluar dari dalam kolam yang kaya akan lumpur. Mendekat, dan terus mendekat hanya ke arahku. Seolah hanya aku yang ia lihat di kolam pemancingan ini. Tubuhku terbanting dan terlempar ketika hewan itu –buaya berkaki itik yang memiliki sayap kelelawar dipunggungnya- menyambar tubuhku yang kurus kering tiada berdaging. Seketika itu pula aku tersungkur ke pangkuan pohon beringin tua di tepian kolam. Orang-orang hanya diam menyaksikan kejadian yang menimpaku. Seakan dan seolah menikmati apa yang ia lihat. Sebagian dari orang-orang itu juga tak sedikit yang lari tunggang langgang meninggalkan kolam pemancingan yang dilanda bencana itu. mereka yang berlarian adalah mereka yang pengecut akan hewan jadi-jadian itu. mirip penyu laut, cara berjalan hewan itu menghampiriku yang lunglaidi pangkuan beringin. Takut. Sungguh takut aku dibuat hewan buta naluri ini. Tanpa pedulikan aku yang diserang demam rasa takut ini. Hewan itu seakan tak berdosa menggigit kaki kananku. Lain untuk menelan ia menggigit spareparts tubuhku, melainkan menarikku ke dasar kolam yang keruh. Dasar yang benar-benar dalam.
Aku mulai tak sadar diri.
Aku tebangun di tepi kolam keesokan paginya. Sepi kola mini kini, serasa tanpa ada kehidupan manusia disekitarku. Yang nampak hanya garis kuning police line mengitari kolam pemancingan ini. Ku raba-raba tubuhku, takut kalau ada sebagian darinya yang tersangkut di gigi binatang tanpa ragu mengunyah itu. lengkap tak ada kurang darinya. Berarti hewan itu hanya menganggapku sebagai mainan saja bukan sebagai makanan, atau hewan itu sedang tidak nafsu makan lantaran sedang terserang mag?
Suara seorang wanita terdengar oleh telingaku. Menyapaku dari segala penjuru.
“Tejo, selamat kau telah mewarisi ilmu kanuragan jiwo nelongso.” Sapa suara itu.
“Ilmu macam apa itu?”
“Hahaha, dengan ilmu itu kau bisa melukai orang-orang yang kau benci dengan jarak yang jauh sekalipun.”
“Aku tak mengerti maksudmu.”
“Pulanglah Tejo, dan jadilah kau dukun santet. Niscaya hidupmu akan berubah.” Tambah suara itu “kau pun akan aku bekali dengan Jin yang siap membantumu dalam urusan itu.”
Belum sempat aku menimpalkan pertanyaan berlanjut, suara itu sudah lenyap seakan ditelan kesunyian yang kini kembali hadir.

Loro
SEMBILAN  tahun sudah aku menjalani kehidupanku sebagai dukun santet tersohor. Bukan sombong, tapi memang orang-orang yang datang padaku berasal dari dalam dan luar negeri. Sebagian besar dari mereka merasa puas dengan cara kerjaku. Sebenarnya dengan ilmu jiwo nelongso, seluruh pekerjaan ini di motori oleh Pinggit, jin berbadan gempal mirip bataion kepolisian yang tak lulus tes urine.
“Ada pasien kang!” istriku berteriak dari luar ruangan.
“Permisi Embah, saya datang kemari mau membeli jasa Embah.” Sapa lelaki dengan stelan jas hitam yang sangat serasi. Matanya bulat meraba setiap jengkal ruangan kerjaku yang dibuat serba remang-remang.
“Silakan duduk, pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Anu, Embah. Anu,”
Sepertinya pria ini masih gugup berhadapan dengan dukun sepertiku. Lidahnya seakan tersekat meskiun tanpa sekat. Membuat semuanya yang diucapnya terputus-putus seperti kaset tepe recorder yang sudah kusut di telan waktu.
“Anu apa pak?” tayaku memperjelas.
“saya diperintahkan Bos saya untuk membunuh seseorang dengan bantuan ilmu milik embah.”
Orang itu memberiku selembar foto ukuran 3R. remang benar remang ku terawang foto itu di tengah kegelapan. Ruang yang memang tak kusediakan lampu didalamnya. Ku dekatkan foto itu ke sebuah lilin yang separuh menyinari ruang.
Kaget aku ketika mataku menemukan garis pada wajah foto itu. sering sekali aku melihat lelaki di foto itu berpidato di televisi. Berpidato di depan kawula rakyatnya. Rakyat Amerika Serikat. Yah, memang betul lelaki berwajah muram di foto itu adalah presiden Amerika Serikat.
“Kalau tidak salah ini kan foto presiden yang sering pidato ditipi-tipi itu?” Tanyaku selanjutnya.
“Iya, Embah. Apa santet Embah tidak bisa melintasi batas Negara?”
“Aku minta tarif sepuluh kali lipat dari tarif normal.”
“Berapapun yang Embah minta pasti akan saya bayar.”
Sebetulnya tak perlu aku menaikkan tarif hingga sekian kali lipat. Sebab, setiap santet yang melintasi batas Negara tak akan menambah devisa Negara. Pun tak perlu aku membuat paspor khusus untuk jin yang setia padaku, sebab ia memang tak membutuhkannya.
Dengan sedikit bacaan mantra, kupanggil Pinggit –nama jin ajudanku- dan kuperuntahkan ia membawa sebuah laptop untuk dibawanya ke Amerika dan dimasukkan ke dalam perut si presiden malang itu. Pinggit pergi menjelma menjadi cahaya merah yang apabila dipandang akan menyakiti mata. Dengan kecepatan 10 km/jam ia meninggalkan rumahku, kampungku, bahkan meninggalkan negaraku.

Telu

SEMINGGU setelah kepergian orang gendut berjas yang memberiku komisi sepuluh kali lipat, aku tak lagi dapat menerima order santet dari pihak lain yang membutuhkan jasaku. Sebab tak kujumpai Pinggit kembali pulang dari Amerika. Entah apa sebabnya ia belum pulang, mungkin ia telah kepincut cinta jin bule. Tugas pengiriman santet yang seharusnya ia lakukan pun terbengkalai, apakah harus aku sewaka travel untuk mengirim santet-santet yang belum sempat dikirim oleh Pinggit. Pinggit belum selesaikan misinya menanam satu unit laptop ke perut presiden Amerika Serikat. Entah apa yang mengganggu tugasnya kali ini, apakah dia ditangkap petugas bea cukai karena dianggap selundupkan laptop ilegal? Ah, tak mungkin, Pinggit seorang jin dan ia dapat menembus dimensi, mana mungkin Pinggit tertangkap petugas bea cukai yang hanya manusia biasa.
Hingga punah hari ke-7, di tengah malam aku tak bisa tertidur pulas lantaran kekhawatiranku terhadap jin semata wayangku itu. Jujur saja aku lebih menyayangi Pinggit dibandingkan anak-anakku sendiri, sebab ialah yang memberiku makan selama ini. Aku takut jika ia tak kembali padaku, dengan begitu tak akan ada lagi yang aku utus untuk mengantarkan santet delivery ke tempat korban yang dipesan. Dengan begitu usaha kewiraswastaanku sebagai dukun santet internasional akan gulung tikar.
BLARR!!!!!!
Suara ledakan mendarat di pekarangan rumahku membisukan binatang-binatang yang kala ini mendiskusikan kenaikan BBM, juga tumbuhan-tumbuhan yang tengah menggosipkan selebriti yang terjebak kasus pun ikut tercekat karena suara itu.
“Emmbaaahh, tolong mbah.. Ini saya, Pinggit, Mbah.”
Semakin menjadi, kekagetanku ketika suara itu terdenhgar dari luar rumah. Sebetulnya sebelum ini Pinggit juga pernah kembali dalam keadaan babak belur seperti pencopet yang dipukuli orang satu terminal.  Sebab sasaran santet ku kala itu adalah seorang  ulama hebat. Pinggit tak mampu mendekatinya, menahan ia yang dianiaya tanpa ampun oleh ulama itu. Ulama itu adalah manusia pertama yang mencoreng nama besarku sebagai dukun kondang. Tapi, kali ini kejadian apa lagi yang menimpa Pinggit? Apakah kejadian serupa terulan kembali? Kupercepat langkahku keluar rumah guna menyaksikan apa yang dialami oleh Pinggit.
Kepulan asap meracuni angin di luar rumah, bulan hanya tercenggang menyaksikan apa yang telah terjadi. Kulihat Pinggit terperosok di lubang tempat orang-orang kampung membuang kotoran sampah rumah tangga mereka.
“Mbah, tolong Pinggit, Mbah.”
“Apa yang terjadi padamu? Apa presiden itu juga dekat dengan Tuhannya sehingga kau tak mampu melukainya?”
“Bukan, Mbah.”
“Lantas kenapa?”
“Jujur saja, Mbah. Presiden itu memiliki ilmu santet melebihi yang Mbah miliki. Ia memiliki lebih banyak jin daripadamu. Para jin itu diberinya seragam lorang-loreng, hingga nampak serempak. Di punggung jin-jin itu dibekali senapan. Dan tak perlu berlarian jin-jin itu mengantarkan santet sang presiden. Cukup dengan mesin yang terbuat dari besi baja, santet-santet itu dapat terkirim walau letaknya jauh, Mbah.”
Terkejut sekaligus marah aku mendengar ada seorang presiden yang mempunyai kemampuan santet melebihiku. Aku tak bisa biarkan presiden itu menerima anugerah dukun santet Awards. Mengapa ia lebih memilih untuk menjadi presiden dibandingkan menjadi seorang dukun santet?
Aku tak bisa terima.

Al-Amien, april 2013

Penggerogot Jiwa



Berpuluh kali sudah aku bermain di meja bundar ini. Botol bertuliskan ‘wishky’ di tanganku pun sudah mulai kemarau, tak kurasakan lagi kenikmatan dari botol itu dan aku lempar entah kemana. Empat lembar rupiah berwarna biru jernih hasil menjual maskawin pernikahanku pun telah ludes dimakan rakusnya meja judi dihadapanku. Kulihat empat pesaingku di seberang meja tertawakanku yang kini melarat. Kutinggalkan mejja ini dengan sempoyongan menghitung langkah hingga sampai di rumah, rumah gedek yang teramat tak layak untuk dihuni anak cucu Adam. Sebuah pintu lusut bertempel di rumah itu perlahan coba kudorong pintu itu. Gerendel kuningan menghalangi terbukanya pintu. Membuat gejolak emosiku menanjak, berulang kali ku gedor pintu itu dengan dilauki hujatan-hujatan kotor dari lisan jahannam ini.
“Buka pintunya, bangsat!”
Seorang wanita kurus kering membuka lembut daun pintu dari dalam rumah kulihat tubuhnya lusuh tak terurus. Terdengar pula tangis balita dari lubuk rumah. Tak penuh dengan peduli kembali lisan ini menghujat.
“Dasar istri yang tak tahu diuntung!”
“Maafkan aku, mas pintunya terpaksa kukunci karena aku takut dikejar-kejar penagih hutang , mas!”.
“Sudah cukup hentikan ocehanmu itu. Wanita gendeng sana buatkan aku minum”. Ucapku sambil memasuki rumah. Kududukkan tubuhku pada ambin bambu di pojok ruang tamu. Kulihat Siti membawakan secangkir kopi kearahku, ia letakkan tepat di jaanibku duduk. Kuraih cangkir itu dan seteguk mengalir di mulutku. Tapi terhenti karena pahit nikmatnya whisky membuat kopi itu tak betah di mulutku sepenuh tenaga kopi itu aku muntahkan ke arah muka istri malangku itu.
“Masya Allah. Mas, apa salah saya?”
“Goblok banget kamu, bikin minum aja gak becus”. Bentakku.
Siti menunduk taku geranganku, tak ada rasa berani di wajahnya. Aku berdiri dari ambin itu dan ‘plass!’ ayunan tanganku mental di pipinya. Aku tinggal ia yang sedang menangis. Seakan tak perduli padanya lagi.
***
Malam terhapus meraih fajar sidik. Pening masih berdiskusi di otakku, lunglai tubuhku diatas tikar tidurku. Seakan kontrakku mati tuk beberapa saat. Sebuah sentuhan wanita paksa ku bangun.
“Mas, bangun mas”.
“Ada apa!”. Jawabku kasar
“Didepan ada orang lagi ngutang, mas”.
“Hanya karena itu kau bangunkan aku?”.
“Tapi mas. Mereka membawa tukang pukul yang siap mengobrak abrik rumah ini”
“Apa! Berarti betul mereka.”
Bergegas aku tegak luruskan tubuhkudengan lantai. Tak lupa ku rapika baju dan songkok kusamku. Dengan langkah ceppat aku tuju pintu depan. Terdengar pria gempal menggebrak pintu sambil teriak-teriak hujat namaku
“Hei, Madrusuh! Keluar kau, atau aku porak-porandakan kandangmu ini.”
Tak terima aku ia hujat seperti itu, kutarik secara spontan lawang ditempatku. Kuperoleh pemandangan empat pria kekar dengan lukisan naga di lengannya. (mereka menatapku penuh nafsu). tak ada rasa takut di tubuhku. Jangankan empat orang, satu lusinpun aku layani.tak kalah gerangnya bentakan tercetak dari lisanku.
“Ngapain loe-loe pada di rumah gua!”
“Kapan loe mau bayar utang loe?”. Jawab seorang dari mereka.
“kalau gua kagak mau bayar gimana?”
Segumpal gegaman meloncat di wajahku, hingga buatku terjugkal ke lantai yang tak kenal ubin. Kurang puas mereka dengan posisiku, masih sempat mereka tambahi dengan injakan disusul tendangan. Tak kuasa aku membalas merek, tubuhku terkapar seakan lupa akan rumus berdiri. Kurasakan rentetan kekerasan itu surut, para preman pasar itu sepertinya berhasil melampiaskan nafsunya. Mereka pergi dengan meninggalkan sebuah dendam kesumat pada diri tubuh ini.
                Tangan seorang wanita berusaha membopongku, dan dudukkan ragaku di ambin. Ia menegukkan segelas air putih padaku dengan kasih sayang. Amarahpada tubuhku seakan menolak niat baiknya. Kuhentikan meneguk air yang ia tegukkan, suara tangis Iwan anak laki-lakiku yang masih berumur dua tahun tersimat dari dalam. Bergegas Siti meninggalkanku menuju rumak kumuh di lubuk rumah.
***
Malam begitu menyentuh kali ini. Berjam-jam iwan menangis seakan tak akan berhenti, Siti bingung mengurusinya. Aku yang mendengarkan-nya pura-pura tidak tahu.
“Mas, mas. Iwan panas mas”. Kata Siti bangunkanku.
“Ada apa lagi?” Jawabku acuh.
“Iwan panas, mas”.
“Nggak papa. Ntar juga sembuh sendiri”.
“Tapi, mas?”
“Udah-udah, tidur! Udah malam”.
Kembali kulanjutkan pelajaranku ke alam dimana ragaku tertidur, tak pedulikan keselamatan anak yang terserang demam, dalam hati aku sempat bertanya, ayah model apa aku ini?
***
Masa masih menunjukkan Jam empat pagi. Mataku lebih cepat terbuka dari biasanya. Kelihatan jelas disisiku seorang istri yang terlelap. Juga terdapat Iwan buah hatiku yang terlelap aneh disana, kupandang terus dia tidurnya, tak kulihat ia bernapas. Aku sempat kaget dan bingung. Jantungnya pun pensiun berdetak, “Ya Allah apa yang terjadi pada buah hatiku ini”.
“Iwan,Iwan, bangun nak”. Kataku.
Tak ada sambutan dari bocah dua tahun itu. Walaupun aku mencoba untuk membangunkannya dangan sekuat tenaga.  Kucoba bangunkan ibunya denngan nada bentak.
“Siti, bangun Siti!”
“Ada apa mas?” Jawabnya lusuh.
“Lihat iwan!”
“Masya Allah apa yang terjadi pada Iwan, mas?”
“Dasar! Apa saja yang kau lakukan hingga Iwan kini mati”
“Iwan mati??” tanyanya lirihsambil memandangi jasad anaknya.
Blender keadaan telah berhasil campurkan marah dan emosi dalam diriku. Beranjakku dari pelungguhanku. Dengan jantung yang terbakar kutinggalkan Siti dan anaknya itu. Disampingku Iblis memberi saran. Ku percepat langkah kakiku ke dapur. Ku raih pisau bergagang kayu yang biasa di buat memotong sayur. Tanpa memperdalam pikir, kembali aku ke kamar dimana kutinggal isteri dan jasad anakku. Tanpa imbalan, tanpa upah aku telah diperintah setan.
“Dasar, ibu macam apa kau ini? Hingga kau buat anakku mati!”
Tak sadar pisau di hastakupun meluncur ke perut isteriku, hingga getah merah segar berlinang dari sumber tusukan itu. Takut kini aku dirumah ini jikalau tetangga atau kerabat melihat aksiku sebagai Jack The Ripper yang mencabik isterinya sendiri. Kuputuskan untukhirah tak tentu tujuan sikilku berjalan tinggalkan kamar, kemudian rumah, kampung dan tak sadar aku telah tinggalkan kota dan profinsiku.
***
Berdiri kini aku disebuah desa tepatnya di kabupaten kediri. anak dan sanak tak kupunya disini, tak tahu aku harus hidup dimana malam ini. Ragu sudah aku bisa melanjutkan perjalanan ini. Ku baringkan tubuhku di sebuah pos ronda, seorang ibu sepertinya prihatin denganku yang terlihat kacau, ia menghampiriku dengan sebungkus nasi berselimut JawaPos.
“Ini nak, sepertinya kau lapar.”
“terima kasih bu” jawabku langsung menyambar bungkusan itu.
Lahap betul aku makan kali ini bahkan warga yang melihatkupun tak membuatku malu. Hingga santapku berhenti seketika melihat Jawapos sampul nasi ini. Terbaca oleh hatiku suatu berita yang membuatku tercekat.

KLATENseorang lelaki berinisial MR tega menghabisi nyawa anak dan isterinya, hanya karena hutangnya yang kian menumpuk. Kata Erwin saksi mata sekaligus tetangga tersangka. “Dua hari sebelum kejadian rumah itu memang di datangi preman penagih hutang (baca lelaki halaman...15).

Berita itu membuatku merasa bersalah. Berdiriku dari pos, berjalan mengeja ribuan kerikil jalan desa. Ingin rasanya ku bunuh jantungku sendiri agar rasa bersalah itu lenyap dari fikiranku. Kembali iblis mengontrol jiwaku ketika aku melewati jurang yang tak ku tahu berapa meter dalamnya, ia perintahkanku untuk mengukur kedalaman jurang itu dengan nyawaku. Tanpa sadar tubuhku telah terlempar kedalam jurang itu.


Prenduan, 2012